Demi Perbaikan Pengawasan, Bea Cukai Adakan Workshop Passenger Risk Management

20 April 2018  |  16:12 WIB
Share this post :
Demi Perbaikan Pengawasan, Bea Cukai Adakan Workshop Passenger Risk Management

Bogor (20/04/2018) – Kebutuhan akan analisis data penumpang baik darat, laut, dan udara saat ini merupakan sebuah keniscayaan. Modus-modus penyelundupan selalu semakin berkembang dari tahun ke tahun dan tidak menutup kemungkinan akan muncul modus-modus baru yang semakin beragam. Bahkan saat ini ada kekhawatiran munculnya objek-objek pengawasan baru yang tidak kalah menantang selain narkotika seperti High Valuable Goods (HVG), CITES, uang tunai, terorisme dan lain-lain. Passenger Risk Management (PRM) dianggap sebagai jawaban atas kekhawatiran tersebut. Dalam rangka pengawasan, PRM tidak hanya efektif dan efisien, namun juga smart atau cerdas.

Hal ini disampaikan oleh Head of PRM of DJBC, yang juga sebagai Kasubdit Intelijen Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Kantor Pusat Bea Cukai, Mochamad Amir, pada sambutannya dalam rangka pembukaan Workshop PRM yang dilaksanakan di Aula Lantai 3 Kantor Bea Cukai Bogor. Acara yang dilaksanakan selama dua hari ini, yaitu pada tanggal 19 s.d. 20 April 2018, akan membahas tentang Current Issues terkait mandatory PMK No. 166/PMK.04/2014 tentang penyampaian data penumpang atas kedatangan atau keberangkatan sarana pengangkut udara ke atau dari daerah pabean. Selain itu, akan dibahas pula konektivitas Passenger Name Record for Government (PNR GOV), pembahasan skema Perdirjen tentang Kerahasiaan Data, review penyusunan struktur manajemen Tim PRM, finalisasi desain system PRM serta penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) PRM.

PRM merupakan aggregasi dari aplikasi PAU dan PNRGOV yang terbukti efektif dalam pengawasan penumpang beresiko tinggi. “Kita patut berbangga bahwa saat ini Indonesia pada umumnya dan DJBC pada khususnya menjadi pelopor dari penggunaan data PNR di wilayah Asia Tenggara bahkan dunia. Hal tersebut direpresentasikan dengan permintaan-permintaan sebagai pembicara, tuan tumah atau role model bagi negara-negara lain di dunia baik yang dipelopori oleh WCO atau negara-negara lain,” ujar Amir.

Amir mengatakan bahwa konsep system berbasis big data dan personalisasi yang ditawarkan PRM, menjadikannya sebagai aplikasi yang smart. PRM merupakan ekses dari kebutuhan pengawasan dan pemanfaatan teknologi 4.0 yang dapat menempatkan DJBC sejajar dengan institusi kepabeanan lain di dunia. PRM juga menyatukan berbagai sumber data, tidak hanya data internal DJBC seperti FERRY, land border, penindakan, narkotika, yacht, pembayaran pajak namun lebih jauh lagi yaitu data-data milik instansi lain seperti Imigrasi, Dukcapil, dan PPATK.

Workshop ini terselenggara atas kerjasama Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) dan Direktorat Informasi Kepabeanan dan cukai (IKC). Diharapkan dengan adanya workshop ini, akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif sehingga berdampak positif pada akselerasi pembuatan sistem. Aplikasi yang dihasilkan pun nantinya dapat teruji dan tepat sasaran. Hal ini dilakukan demi untuk perbaikan pelayanan dan pengawasan Kepabeanan di Indonesia.

Streaming Now

BC TV
Loading the player ...
BC Radio