Bersama Aparat Penegak Hukum Bea Cukai Makassar Gagalkan Penyelundupan 19 Ribu Baby Lobster

12 September 2019  |  15:08 WIB
Share this post :
Bersama Aparat Penegak Hukum Bea Cukai Makassar Gagalkan Penyelundupan 19 Ribu Baby Lobster

Bisnis.com, Makassar (12/09/2019) - Joint Operation Tim Bea Cukai Makassar bersama Tim Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Makassar, Kepolisian Daerah Sulsel, dan Aviation Security lagi-lagi membuahkan hasil.

Melalui sinergi yang baik ini petugas gabungan berhasil menggagalkan penyelundupan ribuan benih lobster bermoduskan barang bawaan penumpang keluar negeri yang di lakukan oleh WNI asal Makassar dengan tujuan Singapura yang akan dibawa dengan pesawat Silk Air pada Minggu (08/09) di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Berawal dari pengawasan BKIPM Makassar yang sedang bertugas di bagian x-ray mencurigai adanya indikasi penumpang menyelundupkan lobster dalam koper yang akan dibagasikan. Kemudian terhadap koper tersebut oleh tim gabungan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan kedapatan ditemukan benih lobster di dalamnya.

“Sebanyak 19.253 ekor benih lobster berhasil diamankan petugas, terdiri dari 13.477 ekor benih lobster mutiara dan 5.776 ekor benih lobster pasir yang dikemas ke dalam 23 bungkus kantong plastik yang telah diisi spons basah dan oksigen,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Makassar, Gusmiadirrahman.

Untuk mengelabui petugas, pelaku mencampur kemasan lobster tersebut dengan kerupuk, mie instan dan sendal jepit didalam satu koper bagasi.

“Adapun nilai jual secara keseluruhan dari barang bukti tersebut ditaksir mencapai 3,5 miliar rupiah,” sambung Gusmi.

Dalam kasus ini, pelaku diserahkan dan telah dalam penanganan Polda Sulsel. Setelah penggagalan penyelundupan ini, ribuan baby lobster tersebut akan dilepaskan langsung ke habitatnya agar populasinya tetap lestari di alam.

“Sinergi ini sangat berguna untuk melindungi sumber daya perikanan perairan Indonesia dari hal-hal yang dapat merugikan penerimaan negara maupun ekosistem perikanan,” pungkas Gusmi.